Mantan Ketua PBNU, Politik Identitas Berdasarkan Agama Haram dalam Al-Quran

Berita, Politik, Ragam254 views

Mantan Ketua PBNUMantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj, mengeluarkan pernyataan tegas terkait praktik politik identitas yang menggunakan agama sebagai alat. Dalam jumpa pers di Jakarta pada Sabtu (16/3/2024), Said Aqil menegaskan bahwa praktik semacam itu adalah haram menurut ajaran Al-Quran.

“Sangat berbahaya agama menjadi alat politik. Sama sekali tidak benar dan itu haram hukumnya dalam Al-Quran,” ujar Said Aqil dengan tegas.

Menurutnya, politik identitas yang menggunakan agama hanya akan menyebabkan perpecahan dalam masyarakat dan potensial memicu konflik yang besar. Lebih lanjut, praktik semacam ini juga berpotensi membahayakan kelompok minoritas, karena mereka rentan menjadi sasaran tindakan intimidasi dari kelompok mayoritas.

Said Aqil kemudian memberikan contoh fenomena Gerakan 212, yang menurutnya muncul akibat praktik politik identitas. Dalam konteks ini, dia dengan tegas menolak Gerakan 212 karena dianggap tidak sesuai dengan prinsip-prinsip agama Islam yang sejati.

“Saya satu-satunya yang terang-terangan menolak 212. Mereka mengatakan kebangkitan Islam? Itu bukan (kebangkitan Islam) karena tidurnya di masjid, shalatnya di Monas. Kalau kebangkitan Islam ya tidur di jalan, shalat di masjid,” tegas Said Aqil.

Pernyataan mantan Ketua PBNU ini mencerminkan keprihatinan atas arus politik yang semakin terkait dengan identitas agama di Indonesia. Dia menilai bahwa pendekatan semacam ini tidak akan membawa kebaikan dalam pembangunan bangsa, melainkan hanya akan memperkeruh suasana dan menghambat proses demokratisasi.

Politik Identitas pada Pemilu 2024

Said Aqil juga mengakui bahwa praktik politik identitas masih terlihat pada Pemilihan Umum 2024. Namun, dia berharap bahwa fenomena tersebut akan mereda seiring dengan berjalannya waktu.

“Masih ada, masih ada (politik identitas), mudah-mudahan lama-lama hilang,” ungkapnya dengan harapan bahwa masyarakat Indonesia akan semakin sadar akan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di atas segala perbedaan.

Baca Juga  Presiden Jokowi Sambut Hari Guru Nasional dengan Pesan Inspiratif dan Poster Kreatif

Reaksi Publik Terhadap Pernyataan Said Aqil

Pernyataan Said Aqil mendapat respons yang beragam dari berbagai kalangan masyarakat. Sebagian besar mendukung pendiriannya dalam menolak politik identitas yang berbasis agama, sementara yang lain menilai bahwa realitas politik Indonesia masih belum sepenuhnya terbebas dari praktik semacam itu.

Beberapa tokoh agama, aktivis, dan politisi menyambut baik pernyataan tersebut sebagai panggilan untuk memperkuat nilai-nilai pluralisme dan toleransi dalam masyarakat. Mereka menganggap bahwa kesadaran akan bahaya politik identitas dapat menjadi langkah awal menuju rekonsiliasi dan persatuan yang lebih kokoh.

Namun, ada juga yang mengkritik pernyataan Said Aqil, terutama dari kalangan yang cenderung memanfaatkan isu agama dalam arena politik. Mereka menilai bahwa pendekatan yang diusung Said Aqil dapat mengganggu strategi politik mereka dalam merebut dukungan massa.

Pernyataan tegas Said Aqil Siradj tentang haramnya politik identitas berbasis agama dalam Al-Quran menjadi sorotan utama dalam pemberitaan hari ini. Meskipun mendapat respons yang beragam, keberaniannya untuk menegaskan prinsip-prinsip agama dan keberpihakan pada persatuan bangsa menunjukkan pentingnya kesadaran akan bahaya politik identitas dalam konteks masyarakat yang beragam seperti Indonesia. Semoga pernyataan ini dapat menjadi pijakan bagi upaya membangun kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga persatuan dalam keberagaman.

Komentar